Dunia saat ini sedang menghadapi ancaman krisis iklim global paling intens sepanjang sejarah modern. Kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi, anomali cuaca ekstrem, hingga kekeringan panjang bukan lagi ramalan masa depan, melainkan kenyataan yang kian kita rasakan dampaknya setiap hari.
Di balik kenyamanan listrik yang kita nikmati setiap detik, mayoritas pasokan energi nasional masih sangat bertumpu pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dan minyak fosil. Pembakaran bahan bakar fosil ini secara masif melepas jutaan ton gas karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer setiap tahunnya. Ketergantungan terhadap energi tak terbarukan ini tidak hanya mempercepat efek rumah kaca dan pemanasan global, tetapi juga menguras cadangan sumber daya alam tak terbarukan yang kelak harus diwariskan ke generasi berikutnya.